↑
Cara Lain Menangkap Ikan Malam Hari di Simeulue

Cara Lain Menangkap Ikan Malam Hari di Simeulue

Cara Lain Menangkap Ikan di Malam Hari Kalau menangkap ikan dengan pancingan, jala, atau dengan tembak ikan. sudah biasa kita dengar dan lihat, Tapi di pesisir Simeulue, juga ada satu kebiasaan yang sedikit berbeda. Cara inipun bergeraknya saat malam hari. Di sini, orang menyebutnya Mancolok. Tidak perlu perahu mesin. Cukup perahu dayung kayu yang melaju pelan, sebuah senter di tangan atau yang diikat di kepala, dan tangguk dengan tangkai yang panjang. ...

Di Balik Hujan Sinabang yang Dulu

Di Balik Hujan Sinabang yang Dulu

“Cuaca mendung terus, sepertinya mau hujan lagi.” Begitulah kalimat yang sering terdengar dari percakapan di warung kopi. Memang akhir-akhir ini matahari sedikit malu-malu, muncul sebentar lalu hilang lagi. Teringat pula saya kata-kata orang tua dulu, kalau sudah masuk bulan dengan ujungnya “ber” (September, Oktober, November, Desember) siapkan ember atau baskom. Walaupun hanya kebetulan saja, tapi kiasan ini bisa jadi lahir dari pengamatan warga sejak dulu hingga menjadi candaan sampai sekarang. ...

Mancing di Perairan Siumat sambil Mendengar Nandong

Mancing di Perairan Siumat sambil Mendengar Nandong

Bagi masyarakat luar, Nandong mungkin terdengar asing. Ini adalah seni tutur khas Simeulue yang dilantunkan tanpa instrumen musik. Ritme dan temponya hanya mengandalkan tepukan manual atau hentakan ritmis, dibawakan secara bersahutan oleh para pelantunnya. ​Masyarakat Simeulue tumbuh bersama Nandong. Bagi kami, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan sejarah yang dirawat lewat tutur lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nandong kerap hadir di acara desa atau panggung hiburan, menjadi ruh ketika orang-orang berkumpul di malam hari. ...

Di Sinabang: Hujan Hampir Tiap Hari, Reda Sebentar Lalu Turun Lagi

Di Sinabang: Hujan Hampir Tiap Hari, Reda Sebentar Lalu Turun Lagi

Sudah hampir sepekan ini Sinabang hujan terus. Polanya bukan hujan deras tanpa henti seharian, tapi hampir setiap hari ada. Reda satu dua jam, jalan mulai kering, lalu turun lagi. Kadang cuma rintik, kadang disertai petir yang menggelegar di atas atap seng. Padahal di beberapa tulisan saya sebelumnya, saya masih menulis Sinabang dalam kondisi panas terik. Saya tidak tahu apakah di daratan Aceh juga begitu. Sempat juga komunikasi dengan teman di daratan, katanya di sana panas terik, saat itu di sini hujan seharian. ...

Eksistensi Warung Kopi di Simeulue

Eksistensi Warung Kopi di Simeulue

Kilas Balik Warkop Aceh sangat familiar dengan warung kopi, hampir setiap daerah di Aceh ini tidak terlepas dari bangunan-bangunan usaha ini. Di Simeulue, sama dengan di daratan Aceh, warung kopi sudah menjamur hingga ke pelosok kampung. Dalam ingatan saya, warung kopi sudah ada sejak kanak-kanak lagi, Di simpang lima contohnya, pada masa itu terdapat tiga hingga empat warkop yang ramai pengunjung, warkop inipun ada yang masih eksis hingga saat ini. ...

Tren Tanaman Hias di Sinabang

Tren Tanaman Hias di Sinabang

Musim yang Pernah Begitu Riuh Ada satu musim yang dulu jadi pemandangan sehari-hari di sekitar Sinabang. Bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi saya, itu bukan sekadar kebiasaan lewat, itu adalah fenomena yang benar-benar riuh. Masa-masa di mana perhatian para pecinta tersedot sepenuhnya. Koleksinya pun berjejer rapi tak terhitung jumlahnya di pekarangan rumah, dan nama-nama latin mendadak diucapkan begitu lancar, seolah menjadi bahasa sehari-hari yang baru. Ya, itulah masa-masa ketika musim bunga hias sedang mencapai puncaknya. ...

Bunga Raflesia: Ketika Penemuannya  di Pulau Simeulue

Bunga Raflesia: Ketika Penemuannya di Pulau Simeulue

Pertama Kali Terdengar Ditemukan di Simeulue Kalau menyebut nama Raflesia, pasti pikiran tertuju ke Sumatera, khususnya Bengkulu, Provinsi yang sampai mendapat julukan The Land of Rafflesia. Dari berbagai literatur yang pernah saya baca, memang di sanalah bunga raksasa ini paling akrab tumbuh dan paling sering jadi bahan penelitian. Tetapi, saat mendengar kabar tentang puspa langka ini juga ditemukan di tanah Simeulue, rasanya seperti menemukan halaman yang selama ini terselip dari buku sejarah. ...

Lobster Simeulue: Nostalgia Masa Kecil di Teluk Sinabang

Lobster Simeulue: Nostalgia Masa Kecil di Teluk Sinabang

Masa kecil dulu, sudut manapun bisa dibuat tempat bermain. Belum ada gawai, kita juga butuh teman disamping supaya selalu beriringan kemana-mana. Kalau sekarang beda, cukup gawai ditangan, mojok sendiri, gak perlu teman disamping sebab teman ada didalam gawai juga (online). Enak juga sih. gak ada peluh, gak ada capek berlarian. Seperti cerita kami yang tumbuh di sekitar Teluk Sinabang, pelabuhan cargo itu menjadi tempat bermain terfavorit kami. Di situ kami bermain bola, petak umpet, sampai menaiki kelahar, sebutan untuk kendaraan sederhana dari kayu menggunakan roda lahar sepeda motor. ...

Melawat: Tradisi Berkunjung di Simeulue

Melawat: Tradisi Berkunjung di Simeulue

Tradisi Berkunjung Pernah nggak kamu merasa, kita itu sekarang gampang banget terhubung, tapi susah sekali betul-betul bertemu? Di Simeulue, ada tradisi tersendiri untuk jawaban rasa kangen itu. Namanya Melawat. Orang Simeulue sudah pasti paham perbedaan berkunjung saat lebaran yang biasanya keliling rumah saudara, dengan sebutan di sini Manjalang. Itu personal. Datang ke rumah nenek, ke rumah paman. Selesai. Nah, Melawat beda level. Ini bukan kunjungan orang-per-orang. Ini rombongan satu kampung mengunjungi kampung lain. Satu desa jalan bareng, disambut satu desa lainnya. ...

Minyak Cengkeh untuk Apa? Napak Tilas "Emas Hijau" yang Pernah Berjaya

Minyak Cengkeh untuk Apa? Napak Tilas "Emas Hijau" yang Pernah Berjaya

Memori Masa Silam Dahulu, jika saat panen tiba, pelataran dan sudut-sudut kampung berjejer hamparan tikar-tikar yang berjemur cengkeh. Riuh warga lalu-lalang membolak-balik jemuran menjadi bagian dari keseharian yang hangat. Apalagi saat hujan turun, kami berlarian menuju tikar penjemuran, ada yang ditutup saja ada juga yang diangkat ke rumah. Kalau sekarang memang masih terlihat penjemuran walaupun tidak se-riuh dulu menurut saya. Jika merujuk berbagai sumber informasi, memang sejak masa kolonial Belanda, pulau ini sudah tersohor dengan perdagangan kopranya, yang kemudian disusul oleh melejitnya komoditas cengkih hingga menjadi sektor unggulan kualitas ekspor. ...